Sholat Perdamaian: Risalah Kebebasan Individu dan Keadilan Sosial

>> 27 September 2008

Judul Buku :
Sholat Perdamaian: Risalah Kebebasan Individu dan Keadilan Sosial

Judul Asli : Risalah Ash Shalah
Pengarang : Mahmud Muhammad Thaha
Penerbit : LkiS
Tahun Terbit : 2001

Pernahkah Anda merasa kehilangan makna sholat Anda? Saya pernah dan saya tengah mengalaminya, ketika kesibukan menjadi ibu begitu menyita hati dan konsentrasi. Oleh karena itu, hari ini saya membuka ulang buku ini. Buku yang dulu tertemukan di meja seorang teman 6 tahun yang lalu. Karena halaman-halaman awal cukup membekas, saya membelinya. Kini, saya ingin memaknai kembali dan terus memaknai sholat saya. Dan benar, melalui buku ini, saya kembali menemukannya! Here is the gem of the book:

“Maknai Terus Shalatmu”

“Bertanyalah kepada dirimu: Apakah engkau senantiasa bersama-Nya? Kalau tidak, maka shalatlah! Sebab kamu berarti belum shalat!”

“Shalat itu gerakan. Gerakan dari lupa menuju sadar, dari jauh menjadi dekat, dari bodoh kemudian tahu.”

“Nabi saw bersabda, “Ada tiga urusan dunia kalian ini yang paling aku sukai; perempuan, wewangian, dan ketenangan jiwaku yang terberi di dalam sholat.”

“Shalat hanyalah sebuah metode yang apabila dipraktikkan terus menerus kita akan dapat melihat ke dalam diri, bertemu dengan jiwa kita sendiri, hidup berdampingan dengannya, mengenali, dan mewujudkan perdamaian dengannya.”

“Amal manusia tidak ada yang paling penting, paling sempurna, paling positif, bermanfaat bagi manusia maupun kemanusiaan melebihi aktivitas shalat.”

“Manusia berpindah-pindah dalam maqam-maqam kesempurnaan secara terus menerus.”
“Tauhid menuntut kita memandang semua makhluk bagaikan satu mata rantai yang saling terkait lingkarannya, meskipun ukuran lingkaran-lingkaran tersebut berbeda-beda.”

“Manusia harus mendekatkan sifat-sifatnya dengan sifat-sifat Allah. Hal ini terjadi berkat potensi pencerapan kesadaran akal yang terlatih dengan etos kebenaran (adab al-haq) dan etos kasunyatan (adab al haqiqah).”

“Allah menjadikan manusia sebagai pemisah tempat bertemunya dua kecenderungan. Dengan demikian, ia berada dalam ajang pergulatan yang tidak pernah berhenti antara dorongan jahat dengan dorongan baik. Pertumbuhan inilah yang menjadikannya lebih sempurna dari malaikat.”

“Para sejarawan mengatakan bahwa sejarah itu mengulangi dirinya sendiri, tetapi ia tidak mengulanginya dalam bentuk yang sama.”

“Kondisi terbaik rasa takut adalah apabila diimbangi dengan pengharapan”

“Ilmu kedokteran modern, fisiologi, melakukan kesalahan ketika menganggap hati itu hanya segumpal darah. Yang benar adalah sebagaimana dipegangi agama dan dalam hadist.”

“Hati merupakan rumah Allah. Ia merupakan tempat suci yang aman.”

“Upaya menyelamatkan diri dari rasa takut hanya dimungkinkan melalui ilmu, yaitu dengan mengetahui sesuatu secara nyata, membuka yang tertutup dari kita lantaran tabir-tabir kegaiban, sebab andaikata kita melihat kegaiban, niscaya hilanglah rasa takut.”

“Perdamaian tidak dapat terealisasi tanpa ada peradaban baru. Harus berupa peradaban dengan nilai-nilai internal yang subtil. Peradaban individu yang melalui perantara komunitas dapat mewujudkan kebebasan internalnya.”

“Islam mampu, berkat tauhid, menghilangkan kontradiksi antara kebutuhan individu dengan kebutuhan masyarakat, serta mampu menyelaraskan dua kebutuhan tersebut dalam satu untaian.”

“Nabi bersabda: Agama itu praksis.”

“Individu yang dapat mewujudkan perdamaian dengan dirinya sendiri adalah orang muslim yang perihalnya nabi bersabda, ”Orang Islam yang sejati adalah orang yang semua muslim selamat dari lisan dan tangannya.”

“Apabila seorang hamba pandai mempergunakan sarana shalat, maka akan membantunya dalam memasuki posisi ridho kepada Allah. Ridho kepada Allah adalah pintu masuk penghambaan.”

Oke, Syukron Pak Mahmud :-)

0 comments:

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP